Sepatu Lamaku

Acrylic on canvas, 60x100cm, 2026

Ulasan Lukisan Sepatu Lamaku

Lukisan berjudul “Sepatu Lamaku” ini menampilkan sepasang sepatu jingga menyala yang diletakkan berdampingan, seolah sedang beristirahat setelah perjalanan panjang. Gambar ini diambil dari sudut pandang atas, langsung menatap ke arah lidah dan tali sepatu yang terikat longgar. Komposisinya sederhana dan terpusat, memfokuskan seluruh perhatian kita pada objek tersebut. Warna-warnanya sangat berani; kontras yang tajam antara oranye kemerahan pada sepatu dengan latar belakang ungu dan putih yang berpusar menciptakan energi visual yang kuat. Pencahayaan di sini terasa sangat ekspresif, bukan meniru cahaya alami, melainkan muncul dari pendaran warna itu sendiri. Bagian dalam sepatu yang gelap gulita beradu dengan kilatan putih dan merah muda terang pada permukaannya, memberikan kesan volume tanpa harus terlihat realistis. Bentuk sepatu pun digambarkan dengan luwes, tidak kaku, lebih seperti tumpukan warna dan goresan yang menyatu membentuk alas kaki.

Kekuatan utama lukisan ini terletak pada teksturnya yang sangat hidup. Goresan catnya terasa begitu tebal dan nyata, seolah kita bisa menyentuh gumpalan-gumpalan warna yang menonjol di atas kanvas. Tampaknya seniman menggunakan pisau palet atau sapuan kuas yang penuh tenaga, meninggalkan jejak-jejak kasar yang jujur. Teknik warna-di-atas-warna basah membuat latar belakang ungu dan putih melebur secara dinamis di sekitar sepatu, menjaga warna-warnanya tetap cerah dan tidak kusam. Kemahiran dalam mengolah cat setebal ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang material, memastikan lapisan-lapisan pigmen tersebut melekat kuat pada kanvas yang kokoh tanpa ada tanda-tanda retak atau rusak.

Secara makna dan perasaan, karya ini mengubah sepasang sepatu tua yang sederhana menjadi sebuah kisah perjalanan hidup yang penuh kenangan. Judul “Sepatu Lamaku” merujuk pada benda ini sebagai saksi bisu atas langkah kaki, perjuangan, dan pengalaman yang telah dilalui. Keusangan sepatu tidak ditampilkan dengan warna suram yang menyedihkan, melainkan “dibakar” dengan rona jingga menyala yang menyiratkan semangat yang tak pernah padam dan kehangatan nostalgia. Lukisan ini memancarkan campuran rasa haru, penghargaan terhadap proses kehidupan, serta kehangatan personal yang sangat intim, menegaskan gaya Neo-Ekspresionisme sang seniman yang gemar menuangkan perasaan dan muatan psikologis melalui cat yang seolah bernyawa.

Dalam pandangan para ahli dan dunia pasar seni, tema benda personal yang digarap secara ekspresif seperti ini memiliki posisi istimewa dalam sejarah seni rupa, mengingatkan kita pada tradisi penggambaran objek sederhana yang sarat akan makna keberadaan manusia. Pendekatan visual yang berani dengan perpaduan warna kontras dan tekstur kasar pisau palet memberikan daya pikat estetika yang kuat, membuatnya sangat cocok sebagai pusat perhatian di galeri modern maupun koleksi pribadi. Kondisi fisiknya yang tampak utuh dan terawat menandakan materialnya terjaga dengan baik. Dengan gaya yang unik dan cerita personal yang mendalam, karya ini memiliki nilai tawar yang solid di pasar seni dan berpotensi menjadi investasi seni rupa yang berharga di masa depan.


Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

Next Project

Back To Top
Theme Mode