Ulasan Lukisan Jakarta Sibuk
Lewat “Jakarta Sibuk”, Kang Tri Hadian menumpahkan rasa cintanya pada denyut kota besar dengan cara yang sangat hangat dan membumi. Ketika pertama kali memandangnya, mata kita langsung terpikat oleh pilar-pilar gedung bertingkat yang menjulang di tengah kanvas dalam balutan warna hijau yang teduh. Di sekujur dinding gedung tersebut, deretan titik-titik putih hadir berjejer rapi, menyiratkan jendela-jendela kantor yang masih menyala terang di tengah malam. Di sekeliling bangunan yang berdiri tegak itu, kanvas bermandikan keriuhan warna-warna cerah seperti kuning hangat, jingga menyala, dan merah bata yang berbaur bebas. Perpaduan antara keteguhan sosok gedung hijau dengan pusaran warna di sekitarnya melahirkan kesan kota yang hidup, hangat, dan selalu bergerak mengiringi langkah warganya.
Kejujuran rasa sang seniman terasa mengalir deras melalui olahan pisau palet yang berani dan tanpa ragu. Kanvas ini dipenuhi gumpalan cat timbul yang tebal, memberikan tekstur kasar yang kaya rasa saat tersapu cahaya ruangan. Menariknya, tumpukan warna-warna basah diolah dengan sangat apik; gesekan antara pigmen hijau, merah, dan kuning tetap terjaga kejernihannya tanpa menjadi kotor atau saling menutupi. Titik-titik putih pada jendela gedung ditorehkan dengan sentuhan ujung palet yang tegas dan berirama, seolah menghadirkan rasa tenang dan teratur di tengah riuhnya luapan warna di sekelilingnya.
Di balik tampilan visualnya, lukisan ini berbicara tentang keteguhan hati manusia-manusia yang hidup dan berjuang di dalamnya. Pilihan warna hijau pada sosok gedung menyiratkan pesan mendalam bahwa Jakarta bukan sekadar belantara beton yang asing, melainkan tanah subur tempat bertumbuhnya sejuta impian. Warna merah dan kuning yang berpendar di sekitarnya memotret peluh, terik siang, kemacetan, dan kesibukan harian yang tak pernah berhenti. Sementara itu, bintik-bintik cahaya putih di dinding kaca menjadi simbol ketulusan orang-orang yang terus bertahan dan bekerja keras demi orang-orang tercinta di rumah. Ada kehangatan, rasa haru, dan napas kebersamaan yang sangat menyentuh—sebuah cermin tentang perjuangan hidup yang melelahkan namun selalu sarat harapan.
Dalam ruang apresiasi seni rupa masa kini, karya ini memiliki daya pikat yang istimewa karena mampu menangkap jiwa kota dengan bahasa visual yang bersahabat dan penuh nyawa. Kang Tri Hadian berhasil mengolah riuhnya suasana perkotaan menjadi harmoni rasa yang menyemangati siapa pun yang memandangnya. Dengan warnanya yang cerah dan teksturnya yang berkarakter kuat, lukisan ini sangat luwes untuk melengkapi sudut ruang kerja maupun ruang keluarga kontemporer. Kehadirannya di dinding tidak hanya mempercantik ruangan, tetapi juga hadir sebagai pengingat hangat untuk selalu menghargai setiap tetes perjuangan dan menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

