Ulasan Lukisan Pandemi Sunyi di Cawang
Kita semua tentu masih mengingat sebuah masa ketika deru mesin dan klakson kendaraan yang biasanya memekakkan telinga di persimpangan Cawang mendadak lenyap ditelan sunyi. Dari kenangan yang getir sekaligus haru itulah, Kang Tri Hadian mengawali kisahnya dalam “Pandemi Sunyi di Cawang”, bukan dengan meratapi keterasingan, melainkan dengan merengkuh keheningan tersebut sebagai ruang untuk memulihkan jiwa. Jalanan aspal yang biasa sesak oleh ribuan ban kendaraan kini terbentang lapang dalam selimut warna kuning keemasan yang hangat, seakan bumi sedang menghela napas panjang dan menikmati istirahatnya dari kelelahan rutinitas manusia.
Mata kita diajak menyusuri jalanan yang menyudut ke arah dalam, melintasi rimbunnya dedaunan beraksen bintik kuning di sisi kiri yang berdiri tenang menemani pagar pembatas. Di seberangnya, berdiri tegak sebuah bangunan modern berlantai dua dengan paduan warna hijau lembut dan terakota, tempat di mana jendela-jendela kaca menyala memancarkan sinar kuning terang. Di atas seluruh lanskap yang membisu itu, langit biru kobalt berawan tebal menggantung teduh, membingkai pemandangan dengan rasa sejuk yang mengimbangi hangatnya pijakan jalan di bawah. Tidak ada hiruk-pikuk lalu lintas, tidak ada sosok manusia yang terburu-buru mengejar waktu, hanya ada dialog damai antara bangunan, pepohonan, dan langit terbuka.
Kejujuran cerita ini semakin kuat terasa melalui sentuhan pisau palet sang seniman yang menumpahkan cat tebal bergelombang tanpa keraguan. Dinding gedung diolah lewat tarikan cat mendatar yang berlapis dan timbul, memperlihatkan jejak pisau yang jujur dan berkarakter saat terkena terpaan cahaya ruangan. Di atas bentangan jalan kuning, Kang Tri Hadian menarik cat secara miring dan membiarkan lelehan warna biru serta jingga saling menyapa di atas kanvas yang masih basah, melahirkan bayangan pantulan yang sangat hidup. Sementara itu, awan di langit dan pucuk-pucuk daun dibentuk melalui ketukan palet yang sabar dan berirama, menjaga kejernihan warna pekatnya agar tetap segar dan bernyawa.
Melalui karya ini, sang seniman ingin mengingatkan kita bahwa kesunyian di luar jendela bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bentuk kasih sayang terbesar ketika setiap keluarga memilih bertahan di dalam rumah demi saling menjaga. Pendaran cahaya kuning dari balik jendela menjadi pesan hangat bahwa di balik dinding-dinding itu, harapan, doa, dan kehidupan tetap berdenyut mesra. Ditinjau dari ruang apresiasi seni hari ini, lukisan ini hadir sebagai prasasti rasa yang sangat berharga—sebuah rekaman sejarah yang tidak membuat kita takut, melainkan menghangatkan hati. Teksturnya yang kaya, warnanya yang ramah, serta pesan ketabahannya yang tulus menjadikannya karya yang sangat bermakna untuk menghiasi dinding hunian maupun ruang kerja modern, hadir sebagai pengingat abadi tentang indahnya rasa syukur dan kekuatan manusia dalam melewati masa-masa hening kehidupan.
Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

