Ulasan Lukisan Toko Gramedia Matraman
Melalui “Toko Gramedia Matraman”, Kang Tri Hadian mengajak kita menatap sebuah bangunan legendaris bukan sekadar sebagai balok semen dan kaca, melainkan sebagai ruang penuh kenangan yang hidup di hati banyak orang. Secara visual, kanvas ini menyapa kita dengan susunan bidang yang teratur namun terasa sangat akrab. Bagian atasnya bermandikan pendaran warna kuning hangat dan jingga terakota yang menyeruak dari kisi-kisi jendela kaca bertingkat, seakan memancarkan cahaya lampu ruang baca yang tak pernah padam. Di bagian tengah, panel-panel kaca tampak berdenyut lewat paduan warna putih, biru, dan merah yang samar, memberi ilusi rak-rak buku, etalase, serta lalu-lalang orang di dalamnya. Komposisi ini kemudian ditopang dengan sangat tenang oleh hamparan hijau kebiruan di bagian dasar, menghadirkan keseimbangan rasa antara sejuknya udara luar dan hangatnya kehidupan di dalam gedung.
Sentuhan keterampilan sang seniman terasa sangat tulus dan bertenaga lewat olahan pisau palet yang kaya rasa. Hamparan warna hijau di bagian depan tidak dibuat licin dan rapi, melainkan ditarik ke atas dengan cat tebal bergelombang yang menciptakan tekstur timbul nyata saat tersorot cahaya. Pada bagian jendela dan dinding tengah, Kang Tri Hadian dengan piawai menggores dan menumpuk lapisan cat, menghasilkan efek kilau kaca dan pantulan cahaya yang sangat luwes. Garis-garis penyekat vertikal berwarna gelap ditarik secara spontan tanpa bantuan penggaris kaku, membiarkan tepian yang sedikit berlepotan dan bergerigi berbicara tentang kejujuran rasa, kebebasan ekspresi, dan keindahan ketidaksempurnaan buatan tangan manusia.
Di balik sapuan warnanya, lukisan ini menyentuh ruang batin yang sangat personal bagi siapa pun yang pernah singgah di sana. Toko buku ikonik ini dihadirkan bagai mercusuar atau lentera ilmu yang setia menemani deru kota Jakarta. Warna kuning keemasan yang dominan memanggil kembali memori tentang aroma kertas baru, keheningan di antara deretan rak tinggi, dan kegembiraan sederhana saat menemukan buku impian. Sementara itu, bidang hijau di bagian bawah terasa seperti trotoar tempat kita melangkah, menyiratkan jeda sejenak dari riuhnya jalan raya Matraman sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kontemplasi. Ada rasa hangat, haru, dan kerinduan mendalam yang terbit—sebuah penghormatan manis bagi tempat yang telah menjadi saksi pertumbuhan batin begitu banyak generasi.
Dalam ranah apresiasi dan seni kontemporer, karya ini memiliki tempat yang sangat istimewa karena mengangkat memori kolektif sebuah tempat publik melalui bahasa rupa yang modern dan menyentuh. Kang Tri Hadian berhasil mengabadikan jiwa kota lewat pendekatan semi-abstrak yang tidak lekang oleh waktu. Dengan karakternya yang hangat, bersahabat, sekaligus penuh wibawa berkat permainan teksturnya yang hidup, lukisan ini sangat memikat untuk menghiasi ruang interior modern. Kehadirannya tidak hanya memperindah dinding ruangan, tetapi juga membawa pulang sepenggal kisah hangat tentang persahabatan, ilmu, dan kenangan indah yang selalu membuat kita merasa pulang.
Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

