Ulasan Lukisan Demam tapi Subuh Berjamaah di Mesjid
Pernahkah kita merasakan saat tubuh sedang menggigil panas oleh demam, kepala berdenyut berat, namun ada dorongan batin yang begitu kuat untuk tetap melangkah keluar menembus dinginnya udara fajar? Dari pengalaman yang sangat manusiawi dan jujur itulah Kang Tri Hadian menuturkan kisahnya dalam “Demam tapi Subuh Berjamaah di Mesjid”. Seluruh permukaan kanvas bermandikan sapuan warna merah marun, terakota, hingga merah muda dan krem hangat, menghadirkan ilusi pandangan mata seseorang yang sedang meriang—ketika dunia di sekitarnya tampak berpendar kemerahan, agak berkabut, dan bergetar karena suhu tubuh yang meninggi. Di sudut kiri atas, sebuah lingkaran cahaya fajar menggantung lembut, menjadi saksi bisu perjuangan raga yang lemah demi memenuhi panggilan hati.
Di tengah kabut rona merah yang hangat itu, tatapan kita berlabuh pada sosok masjid berkubah yang berdiri anggun tepat di pusat gambar. Sosok bangunannya tidak dilukis dengan garis mistar yang kaku, melainkan dibiarkan bergetar lembut lewat tumpukan cat tebal, seolah melambangkan tempat perlindungan yang kokoh sekaligus menenangkan bagi jiwa yang sedang lelah. Di pelataran bawah, tampak siluet-siluet kecil orang-orang yang melangkah beriringan menuju rumah ibadah tersebut. Sosok-sosok jamaah ini hadir bagai embusan napas kebersamaan; melihat mereka berjalan bersama dalam diam melahirkan rasa haru dan suntikan kekuatan baru, mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam melangkah dan berdoa.
Ketulusan cerita ini semakin meresap ke dalam hati berkat kelihaian sang seniman dalam mengolah pisau palet. Tanpa ragu, Kang Tri Hadian menorehkan cat tebal dengan tekstur timbul yang kasar namun terasa sangat luwes dan berjiwa saat tersorot cahaya. Dinding masjid dibangun dari lapisan demi lapisan cat pekat yang saling bertumpuk, sementara langkah-langkah jamaah dibubuhkan melalui ketukan ujung palet yang spontan dan penuh energi gerak. Perpaduan warna merah tua di atas dasar krem dan merah muda dibiarkan menyatu di atas kanvas yang masih basah, melahirkan transisi warna yang lembut dan puitis tanpa kehilangan ketegasan bentuk bangunannya.
Melalui karya ini, Kang Tri Hadian tidak sekadar melukis ritual keagamaan, melainkan merayakan keteguhan hati manusia ketika rasa cinta dan kepasrahan kepada Sang Pencipta mampu mengalahkan rasa sakit pada raga. Ditinjau dari ruang apresiasi seni rupa masa kini, lukisan ini membawa hembusan angin segar karena memotret pengalaman spiritual melalui sudut pandang yang sangat intim, hangat, dan membumi. Palet warnanya yang ramah dan menyejukkan hati, dipadu dengan tekstur berkarakter yang sarat perasaan, menjadikannya karya yang sangat istimewa untuk menghiasi ruang keluarga maupun ruang kontemplasi pribadi. Kehadirannya di dinding rumah terasa bagai pelukan hangat yang menenangkan—sebuah pengingat lembut bahwa di balik kerapuhan tubuh kita, selalu ada doa dan ketulusan hati yang mampu memberi kekuatan untuk melangkah menyongsong fajar baru.
Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

