Ulasan Lukisan Dua Menara
Ada keheningan yang menghanyutkan begitu kita memandang “Dua Menara”, seakan Kang Tri Hadian sedang mengajak kita berhenti sejenak dan menengadah ke hamparan langit terbuka yang mahaluas. Di balik kanvas ini tersimpan kisah tentang dua penanda ruang atau dua jiwa yang saling melengkapi dalam mengarungi waktu. Yang satu berdiri ramping dan anggun bermahkotakan kubah kecil dengan pendaran warna merah, jingga, dan kuning yang menyala hangat bagai nyala lentera. Di sampingnya, hadir sosok menara kedua yang jauh lebih kokoh, besar, dan berdinding merah bata tebal, berdiri mantap bagai pilar pelindung yang tak tergoyahkan. Kehadiran keduanya di tengah bentangan cakrawala biru toska yang tenang menyiratkan dialog sunyi tanpa kata—tentang bagaimana perbedaan karakter justru bisa hidup berdampingan secara indah, saling menguatkan dan menjaga di tengah luasnya ruang semesta.
Rasa tenang bercampur takzim ini lahir dari kepekaan sang seniman dalam membagi ruang dan memadukan warna. Langit biru pekat yang membentang luas dibiarkan mendominasi latar belakang, diselingi sapuan awan atau kabut putih mendatar yang memberi kesan semilir angin di ketinggian. Di atas bentangan biru yang dingin dan lapang itulah, kedua menara merah berdiri sebagai titik fokus yang menyala. Kontras antara hangatnya warna merah-oranye dan sejuknya latar biru menghasilkan daya tarik optik yang langsung memikat pandangan, memberi kedalaman rasa yang lapang dan bernapas tanpa terasa sepi atau hampa.
Jika didekati, sentuhan tangan dan kejujuran rasa Kang Tri Hadian terasa begitu tulus melalui olahan pisau paletnya. Kedua menara tidak digambar dengan garis mistar yang kaku, melainkan dibentuk dari tumpukan cat tebal timbul yang sarat tekstur dan energi. Campuran warna merah dan kuning pada menara ramping diolah langsung di atas kanvas yang masih basah, melahirkan efek kilau cahaya matahari yang hangat dan hidup. Sementara itu, latar birunya disapukan secara mendatar dan bergelombang, memperlihatkan jejak pisau palet yang bebas dan mengalir alami menyerupai lapisan atmosfer udara. Ketidaksempurnaan garis dan tekstur yang kasar justru memberi jiwa pada bangunan tersebut, menjadikannya terasa organik dan bernyawa layaknya karya buatan tangan yang sarat perasaan.
Dari sudut pandang apresiasi seni saat ini, karya ini hadir dengan bahasa visual yang sangat bersahabat sekaligus berwibawa bagi para penikmat seni. Alih-alih menggambarkan menara atau gedung secara rumit, seniman menyederhanakannya menjadi tatanan bidang warna dan tekstur arsitektural yang puitis. Karakternya yang tenang, hangat, dan kontemplatif membuat lukisan ini sangat luwes untuk melengkapi suasana ruang keluarga, ruang baca, maupun kantor modern. Memajangnya di dinding terasa bagai membuka jendela ke bentangan langit yang hening—sebuah pengingat lembut bagi siapa pun yang memandangnya untuk sejenak menarik napas, beristirahat dari riuhnya dunia, dan menemukan kembali kedamaian di dalam hati.
Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

