Doa-doa Ba’da Sholat

Acrylic on canvas, 50x70cm, 2026

Ulasan Lukisan Doa-doa Ba’da Sholat

Ada ruang hening yang begitu teduh di dalam hati manusia seusai salam terucap dan sujud terakhir selesai ditunaikan. Saat itulah dunia luar seakan melambat, urusan yang melelahkan diletakkan sejenak, dan yang tersisa hanyalah dialog bisu yang sangat dekat antara hamba dengan Sang Pencipta. Ruang rasa yang intim dan khusyuk inilah yang dihembuskan oleh Kang Tri Hadian ke atas kanvas dalam karyanya, “Doa-doa Ba’da Sholat”.

Ketika mata pertama kali menatap kanvas, kita langsung ditarik masuk ke dalam hamparan gelap gulita yang dalam. Namun, warna hitam ini bukanlah lambang ketiadaan atau rasa takut, melainkan gambaran malam yang tenang—sebuah ruang batin yang hening tempat jiwa bersimpuh pasrah. Di tengah kepekatan itu, bermunculan bulatan-bulatan warna merah menyala yang hangat bagai bara api kecil, ditemani liukan aksara kaligrafi Arab bernuansa keemasan yang bertebaran bebas. Komposisi ini terasa begitu hidup; pendaran warna merah dan emas di atas dasar gelap melahirkan kesan seperti lentera-lentera harapan yang menyala satu per satu, mengundang mata kita untuk menyusuri setiap bait doa yang melayang tenang menembus malam.

Ketulusan doa tersebut terasa semakin meresap berkat sentuhan tangan sang seniman yang begitu sabar mengolah pisau palet. Latar belakang hitam tidak dibiarkan rata, melainkan dibentuk dari tumpukan cat tebal yang berkerut dan berpori alami, menciptakan tekstur timbul yang nyata saat tersentuh jemari atau tersiram cahaya ruangan. Bentuk-bentuk merah diolah lewat plakat cat timbul yang tegas dan kenyal, sementara goresan huruf kaligrafi Arab tidak ditarik kaku seperti tulisan pena di atas kertas, melainkan mengalir luwes, menyatu erat dengan gelombang tekstur kanvas di bawahnya. Kejujuran olah rupa yang berani ini memberi nyawa pada lukisan, menjadikannya terasa organik dan sarat energi batin.

Bagi siapa pun yang memandangnya, karya ini berbisik tentang kerinduan terdalam manusia untuk didengar dan dikasihi. Pendaran merah dan keemasan di atas bidang gelap adalah metafora dari getaran hati yang menghangat ketika kita berbisik lirih memohon ampun, mengadukan keluh kesah, serta melangitkan harapan bagi orang-orang tercinta. Ada rasa lega, damai, dan keyakinan lembut yang menyusup—bahwa sekecil apa pun bisikan doa yang terucap di tengah kesunyian, ia tak pernah hilang sia-sia, melainkan membumbung indah menuju langit.

Dalam ruang apresiasi seni rupa masa kini, karya ini hadir dengan kepribadian yang sangat anggun dan berwibawa karena berhasil merajut keindahan kaligrafi dengan napas ekspresionisme modern yang menyentuh. Kang Tri Hadian tidak sekadar menampilkan keindahan tulisan suci, melainkan memindahkan getaran rasa saat beribadah ke dalam bahasa visual yang begitu membumi. Karakternya yang tenang, syahdu, sekaligus mewah menjadikannya pilihan yang sangat istimewa untuk menghidupkan ruang ibadah pribadi, ruang kontemplasi, maupun sudut tenang di rumah keluarga modern. Kehadirannya di dinding menjadi pengingat yang menyejukkan hati—bahwa di tengah lelahnya langkah mengarungi hidup, selalu ada ketenangan sejati yang menanti dalam untaian doa dan kepasrahan kepada Tuhan.


Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

Next Project

Back To Top
Theme Mode