Ulasan Lukisan Rimba Kota Raya
Melalui “Rimba Kota Raya”, Kang Tri Hadian mengajak mata dan rasa kita menyelami denyut kehidupan metropolitan dengan cara yang sangat personal dan jujur. Secara visual, kanvas ini terbagi dengan begitu lugas ke dalam dua bentangan warna yang berani: bidang putih yang bersih di bagian atas dan hamparan kuning keemasan yang hangat di bawahnya. Tepat di tengah pertemuan kedua ruang tersebut, berjejer siluet gedung-gedung tinggi menyerupai deretan menara berujung lancip. Harmoni antara warna merah yang membara, kuning terang, serta sentuhan hitam pekat memberi irama tersendiri—seolah menggambarkan gedung-gedung yang hidup dan saling berbisik, sementara bayangan putih di bagian bawah mengimbangi komposisi ini agar tetap tenang dan tidak runtuh oleh hiruk-pikuk warna di atasnya.
Sentuhan tangan dan kepekaan teknik sang seniman terasa begitu hidup lewat permainan pisau palet yang berani. Alih-alih melukis garis yang kaku dan rapi layaknya cetak biru arsitektur, Kang Tri Hadian justru menumpahkan cat tebal dengan tekstur timbul yang sangat ekspresif. Jika disentuh, permukaannya menyimpan jejak goresan yang kasar namun sangat terukur, menciptakan efek kedalaman yang nyata saat tersentuh cahaya. Guratan putih tebal di bawah siluet gedung dibiarkan menggumpal secara organik, seakan menangkap pantulan cahaya kota yang jatuh ke jalanan basah. Kejelian meracik warna langsung di atas kanvas basah membuat warna-warna menyala tersebut tetap berkarakter kuat tanpa saling menenggelamkan atau menjadi kusam.
Di balik keindahan bentuknya, lukisan ini menyuarakan rasa yang begitu akrab bagi siapa saja yang pernah hidup di tengah kota besar. Kang Tri Hadian memandang kota bukan sekadar rimba kaca dan beton, melainkan wadah bertemunya jutaan mimpi, ambisi, dan kesendirian. Warna merah yang menyala memotret energi manusia yang tak pernah lelah mengejar asa, sementara ruang kosong berwarna kuning dan putih di sekitarnya menghadirkan jeda untuk bernapas dan berkontemplasi. Bayangan putih yang menjulur ke bawah terasa bagai jejak rapuh kehidupan kita—mengingatkan bahwa di tengah segala kemegahan pencapaian manusia, ada keheningan dan kerinduan akan ketenangan batin yang selalu kita cari.
Dari sudut pandang apresiasi seni dan ruang pajang, karya ini terasa sangat relevan dengan dinamika seni kontemporer saat ini. Ia tidak sekadar meniru bentuk fisik kota, melainkan menangkap getaran emosi dan jiwanya, sebuah pendekatan yang selalu menarik perhatian para pengamat seni. Karakternya yang hangat, berani, sekaligus puitis menjadikannya karya yang sangat luwes namun berwibawa untuk menghiasi ruang interior modern. Kehadiran lukisan ini mampu menjadi titik temu rasa—sebuah karya yang tidak hanya mempercantik sudut ruangan, tetapi juga mengundang siapa pun yang memandangnya untuk sejenak berhenti, merenung, dan menemukan kedamaian di tengah riuhnya dunia.
Galeri Rumah Bambu Pinang Ranti
Muhammad Afdhal Madah

